Pendidikan Favorit: Pelajaran dari Sebuah Perpustakaan Desa

Masih jelas terngiang di ingatan, langkah pertama saya memasuki perpustakaan desa Kotablangkejeren. Saat itu usia sembilan tahun. Ruangannya tak lebih besar dari gudang, menempel di samping kantor kepala desa. Cat hijau pudar di dinding, tiga rak kayu reyot, dan lampu neon yang sering kedap-kedip. Tapi di tempat sederhana itulah dunia baru terbuka. Bukan sekadar hafalan pelajaran sekolah, tapi pertanyaan-pertanyaan yang memicu rasa penasaran: bagaimana listrik bisa menyala? Mengapa bintang tak jatuh? Siapa petani pertama yang menanam padi? Perpustakaan kecil itu menjadi tempat pendidikan favorit saya, membuktikan bahwa belajar paling efektif lahir dari keingintahuan alami.
Di era sebelum internet menjamur, perpustakaan desa adalah surga bagi anak-anak seperti saya. Setiap pulang sekolah, kaki ini langsung melangkah ke sana. Tak ada gadget atau wifi, hanya buku-buku usang yang jadi jendela pengetahuan. Matematika saya pelajari dari buku pinjaman kakak kelas yang penuh coretan. Ilmu biologi dari ensiklopedia tahun 80-an yang sampulnya sudah lepas. Keterampilan menulis diasah dengan menyalin cerita rakyat ke buku tulis bergaris. Tanpa guru yang mengawasi atau ujian yang menuntut, justru di situlah kebebasan belajar sesungguhnya. Bisa mengulang halaman yang sama berkali-kali sampai paham, atau melompat ke bab lain ketika bosan.
Pendidikan favorit tak harus mewah atau mahal. Yang terpenting adalah ruang untuk mencoba dan gagal tanpa dihakimi. Di perpustakaan itu, saya bebas menulis cerpen meski jelek, bereksperimen dengan rumus matematika, atau sekadar duduk diam memikirkan pertanyaan yang tak terjawab. Kebiasaan belajar mandiri ini terbawa hingga dewasa. Sekarang sebagai penulis, pola yang sama tetap saya terapkan: cari referensi, baca kritis, lalu tuangkan dengan bahasa sendiri. Perpustakaan desa telah menjadi fondasi cara saya menyerap ilmu seumur hidup.
Sebntar saya sadar, tak semua orang beruntung punya akses ke perpustakaan fisik. Tapi pendidikan favorit bisa datang dari mana saja. Bisa dari obrolan dengan tetangga sepuh, tayangan dokumenter di televisi, atau diskusi di forum online. Intinya adalah menjaga api keingintahuan tetap menyala. Jika ada satu pelajaran berharga dari pengalaman ini, jangan pernah meremehkan proses belajar yang tampak sederhana. Seringkali ilmu paling berharga justru datang dari tempat yang tak terduga. Bangeet kan?